ON AIR
EDISI Semakin Ku Kejar, Semakin Kau Jauh 7 menit
LAGU Semua Ini Sendiri Five Minutes

Terasa Benar, Tetapi Apakah Benar

EXCERPT

Judul lagu ini terdengar seperti hukum: semakin dikejar, semakin menjauh. Tapi hampir seluruh liriknya berisi pengandaian, "bila mungkin", "mungkinkah", "bilakah", dan tidak ada satu baris pun yang membuktikan hukum itu. Narator merasakan jaraknya lebih dulu, lalu menamainya seolah sudah pasti.

Judul lagu ini terdengar seperti hukum: semakin dikejar, semakin menjauh. Tapi hampir seluruh liriknya berisi pengandaian, "bila mungkin", "mungkinkah", "bilakah", dan tidak ada satu baris pun yang membuktikan hukum itu. Narator merasakan jaraknya lebih dulu, lalu menamainya seolah sudah pasti.

Bait pembukanya bahkan belum bicara soal mengejar:

"Bila mungkin kau lihat aku menanti dirimu / Bila mungkin dirimu ada di samping diriku" — Five Minutes, "Semakin Ku Kejar Semakin Kau Jauh"

Kata kerjanya "menanti". Baru di chorus narator "terus berlari". Menunggu dan berlari adalah dua sikap yang berbeda, dan lagu ini menaruh keduanya berdampingan tanpa memberi tahu mana yang terjadi lebih dulu, atau mana yang membuat orang itu terasa menjauh. Bahkan penantian di bait pertama masih berbentuk pengandaian: "bila mungkin kau lihat". Narator menunggu, dan tidak yakin penantiannya terlihat.

Di chorus, lagu ini membantah dirinya sendiri:

"Tak pernah letih tuk dapatkanmu / Terus berlari namun ku takut terjatuh lagi"

"Tak pernah letih" adalah klaim tentang tenaga. Baris sesudahnya membicarakan takut, dan sesudah itu perih. Kata "lagi" di baris itu juga penting: jatuhnya sudah pernah terjadi, jadi larinya dilakukan sambil membawa ingatan tentang jatuh. Narator yang benar-benar tidak letih tidak perlu meminta disadarkan, dan itulah yang ia minta di ujung chorus.

Lalu di bait kedua, ia menjatuhkan vonis sendiri:

"Bila mungkin terjadi pasti itu hanya mimpi"

Kemungkinan ditutup sebelum sempat diuji. Terdengar seperti cara melindungi diri: kalau sudah dinamai mimpi, kecewa tidak akan terlalu mengagetkan. Tapi itu juga cara lain untuk tidak pernah tahu.

Kata "mimpi" muncul dua kali dan tidak selalu berarti hal yang sama. Di bait kedua, "hanya mimpi" terdengar seperti ilusi, sesuatu yang tidak nyata. Di ujung chorus, "sadarkan aku dari mimpiku" bisa dibaca dua cara: berhenti berharap, atau berhenti melihat sesuatu yang tidak ada. Kalau mimpi berarti keinginan, disadarkan berarti keinginan itu harus padam. Kalau mimpi berarti ilusi, disadarkan berarti melihat apa adanya, dan apa adanya belum tentu pahit. Lagu ini tidak memilih, dan ambiguitas itulah yang membuat permintaannya tidak bisa dijawab dengan satu kalimat.

Judulnya terdengar seperti hukum; isi liriknya baru perasaan.

Ada satu hal yang menarik soal lagu ini. Ia jujur soal ketidakpastian di hampir setiap baris, dan satu-satunya kalimat yang berbentuk kepastian adalah kalimat yang paling sering diulang: semakin ku kejar semakin kau jauh. Pengulangan bukan pembuktian, tapi di telinga ia bekerja seperti pembuktian. Semakin sering didengar, semakin terasa seperti fakta, dan semakin sedikit ruang untuk bertanya apakah ia pernah diperiksa.

Ini bukan berarti rasanya keliru. Rasa bahwa seseorang menjauh justru ketika kita mendekat bisa sangat nyata, bahkan koheren dengan seluruh yang sedang dirasakan, tanpa harus menjadi hukum yang berlaku untuk semua orang. Pembacaan ini subjektif. Saya mendengarnya dari posisi orang yang mengenali rasa itu tanpa pernah mengujinya, dan karena itu "terasa benar" saja tidak saya perlakukan sebagai bukti.

Yang membuat lagu ini relevan dengan lensa kesadaran justru permintaan terakhirnya: "sadarkan aku dari mimpiku". Narator tidak berkata "aku akan bangun". Ia meminta dibangunkan, seperti orang yang sudah mencoba memeriksa motifnya sendiri dan mendapati pemeriksaan itu berputar tanpa titik henti. Kalau membangunkan diri dari dalam tidak mungkin, satu hal yang masih bisa dipegang adalah ukurannya: apa yang akan dihitung sebagai "dia menjauh"? Tanpa jawaban atas pertanyaan itu, "bilakah" hanya punya satu jawaban yang selalu tersedia, yaitu belum.

Lagu ini sendiri tidak memberi resolusi. Chorus diulang sampai selesai, dan permintaan terakhirnya sama dengan yang sebelumnya: sadarkan aku. Tidak ada bait yang menunjukkan apa yang terjadi kalau narator berhenti berlari sejenak dan melihat seberapa jauh jaraknya sebenarnya, bukan seberapa jauh rasanya. Mungkin itu memang bukan tugas sebuah lagu.

Kalau sebelum mulai mengejar kamu harus menuliskan apa yang akan kamu hitung sebagai "dia benar-benar menjauh", apa yang akan kamu tulis?